Iklan Ali Prakosa

Sidak Proyek Gagal, Komisi II DPRD Kota Mojokerto Temukan Pekerja Alun Alun Belum Terima Gaji Selama Tiga Minggu 

 

lenteramojokerto.com | Proyek prestisius rehabilitasi Taman Alun-alun tugu Majapahit dengan tinggi 45 meter senilai Rp 2.8 miliar yang dikerjakan oleh CV Indraprasta kedua kalinya  di sidak Komisi II DPRD Kota Mojokerto  dianggap proyek gagal minus sudah tak terhitung. parahnya puluhan pekerja belum menerima gaji selama tiga minggu.

Dalam keterangan pers usai sidak proyek gagal , Ketua Komisi II DPRD Kota Mojokerto Moch. Rizky Fauzy Pancasilawan mengungkapkan bahwa proyek alun alun nilai minusnya sudah tak bisa dikatakan lagi bahkan jika dilihat dari fisiknya baru pengerjaan diperkirakan hanya 20 persen.

lebih lanjut politisi PDI Perjuangan tersebut akan menindaklanjuti untuk menggelar hearing terkait parahnya progres pengerjaaan proyek yang digadang gadang jadi ikon kota Mojokerto tersebut. kedepan ia  akan memanggil  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) selaku pemilik proyek.

Parahnya ditengah diobralnya perpanjangan bagi pengerjaan proyek di Mojokerto dalam sidak di Alun-alun para anggota komisi tersebut menemui puluhan  pekerja saja yang santai dan tidak melakukan aktifitas apa apa.

“Dilokasi kami ketemu beberapa pekerja, saat kita tanya sedang menunggu gaji dan belum menerima gaji selama tiga minggu.  ” Terang Rizky.

Selain itu, Wakil Ketua DPRD Kota Mojokerto Junaidi Malik menjelaskan bahwa pekerjaan Tugu alun alun tenaga kerjanya sudah berhenti beraktifitas serta banyak yang pulang. beberapa lokasi tersebut merupakan tempat keramain dan fasum ,persoalan TDK selesai nya di lapangan dan berantakan matrial di sekitar nya sangat berdampak merugikan masarakat terkait kelancaran, keamanan kenyamanan, dan mobilitas masarakat.

” kita menemukan beberapa hal yang harus menjadi evaluasi besar oleh Pemkot, yaitu terkait pola perencanaan, tahapan lelang, dan tahapan pelaksanaannya. kita ketahui tiap tahun bisa dikatakan tahapan penyerapan program fisik insfrastruktur selalu terlambat start ,sering dalam posisi jelang akhir tahun dokumen kontrak baru di tandan tangani. padahal kalau pola perencanaan bisa selesai di awal ,dan awal tahun anggaran bisa diajukan tahap lelang bisa ada cukup waktu Ndak sampai mepet akhir tahun sepreti sekarang” jelas Juned.

lebih lanjut Juned juga menegaskan Pola pola yang janggal dan kurang pas itu menjadi atensi kita untuk segera kita bedah untuk menjadi bahan RDP bersama OPD terkait  evaluasi besar kedepan dan yag terpenting memastikan harus ada konsekwensi ketegasan.

“kita akan segera mengambil langkah dan sikap yang jelas secara regulasi dan aturan main yang berlaku ,sehingga kelemahan pola yang ada selama ini benar benar bisa jadi evaluasi ,kita Ndak mau Kota Mojokerto menjadi Teracak acak oleh sekelompok pihak yang tidak jelas ” tegasnya.

sebelumnya, Proyek prestisius rehabilitasi Taman Alun-alun tugu Majapahit dengan tinggi 45 meter senilai Rp 2.8 miliar yang dikerjakan oleh CV Indraprasta akhirnya disidak Komisi II DPRD Kota Mojokerto dengan nilai progres minus hingga 11 persen.

BeritaLainnya

Dalam keterangan pers usai sidak, Ketua Komisi II DPRD Kota Mojokerto Moch. Rizky Fauzy Pancasilawan mengungkapkan bahwa proyek alun alun nilai minusnya mencapai 11 persen. “Proyek Alun-alun minus 11 persen. Indikasinya proyek tersebut disub (kontrak) kan. Tapi ini baru dugaan.

lebih lanjut politisi PDI Perjuangan tersebut akan menindaklanjuti untuk menggelar hearing terkait terseok seoknya proyek tersebut. Usai berkonsultasi dengan ketua DPRD, Rizky menyatakan akan memanggil rekanan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) selaku pemilik proyek dalam waktu tidak terlampau lama.

Dalam sidak di Alun-alun para anggota komisi tersebut menemui hanya empat pekerja saja. “Dilokasi kami ketemu empat pekerja, dan mereka orang Mojokerto. Ditanya siapa bosnya, bilangnya nggak tahu.
Kepala tukangnya ngomong kalau mereka anak buah Andika, ” Terang Rizky kemudian.

Saat sidak anggota Dewan ditemui Eryanto dari DLH. Menurutnya ada kesalahan hitung RAB (Rancangan Anggaran Belanja) dari pemenang. “Untuk pembuatan ornamen tugu di speknya sebesar Rp 450 juta, namun dalam hitungan pemenang tender tertulis Rp 9 juta. Karena adanya perbedaan yang besar sehingga mereka kesulitan keuangan karena beda hitung-hitungan, ” Urainya.

Pelaksana, sebenarnya telah melaksanakan sejumlah pekerjaan. Setelah merobohkan monumen ikon dari Kota ini pekerjaan malah tidak dilanjutkan. Beredar informasi jika pelaksana telah kabur.

Menurut Rizky, pelaksana juga telah memasang 30 dari 100 tiang pancang dengan menggunakan crane. Namun kini pihak crane yang disewa akhirnya merobohkan crane nya karena telah melampaui batas waktu sewa. ( Diy / Sis)

BeritaTerkait

Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terkini



Add New Playlist