Iklan Ali Prakosa

Puisi ; Karya Sastra yang Dianggap Alay Generasi Zaman Sekarang

Siapa yang tidak mengenal puisi ? Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra yang banyak disukai karena disajikan dalam bahasa yang indah dan sifatnya yang imajinatif. Bahkan puisi juga dianggap sebagai rangkaian kata-kata yang menggambarkan perasaan penulisnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi juga diartikan sebagai gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat.

Puisi telah melewati banyak waktu untuk berkembang, mulai dari era balai pustaka hingga era moderen ini. ciri-ciri dan jenisnya pun kian meluas. Puisi yang dulunya dianggap menjadi karya sastra terstruktur, elok, berani dan mahal, kini banyak yang menganggap nya berlebihan bahkan alay. Apa penyebabnya? selengkapnya akan kita ulas disini.

Apa kamu pernah membaca puisi yang begitu alay atau lebay ?

Atau kamu pernah menulis puisi yang saat kamu baca kok terdengar sangat lebay ?

Jadi puisi itu apa sebenarnya ?

Kumpulan kata-kata lebay? Atau yang disebut-sebut orang zaman sekarang, sok puitis itu apakah artinya sok lebay? Kenapa banyak puisi kalau dibaca terdengar cringe, cheesy, awkward disgust dan bikin goosebumps (merinding)?

Mungkin kalian tidak salah. Saya berani bilang begini padahal saya juga seorang pembaca puisi, sungguh lancang diri saya. Namun mari saya jelaskan mengapa pembaca puisi seperti saya berani bilang kalau puisi itu alay, saya kira bukan cuma saya, tapi banyak pembaca bahkan penulis lain juga memiliki pemikiran yang sama.

Alasan yang pertama adalah ‘Kebucinan’ yang merebak di mana-mana, sampai akhirnya menyalah artikan puisi hanyalah rangkaian kata-kata romantis. Bukan hanya itu, Itu terlalu sempit, puisi bukan cuma kata-kata romantis yang membuat wanita luluh. Dan asal anda tahu, ini adalah akar kenapa puisi bisa alay. Ya ini gara-garanya, menyama-ratakan bahwa puisi adalah sebatas kata-kata romantis untuk pasangan.

Masalah ini juga terletak pada ‘konsumsi puisi’ generasi sekarang. Yang sering dihubungkan dengan cinta, menangis gara-gara cinta, bahagia gara-gara cinta, dan hal apapun yang ada kaitannya sama cinta. Mari kita sadari bersama, cinta itu sakral, cinta itu tidak seringan dan sepasaran yang kita pikirkan, jadi mari jangan sama ratakan bahwa cinta itu selalu tentang pacar atau kekasih.

Dalam suatu kelas bahasa Indonesia saat saya duduk di bangku SMA, ada tugas membuat puisi bertema bebas. Setelah pelajaran selesai saya sengaja melihat karya puisi teman-teman saya. Hampir 80 % dari semua teman saya mengambil tema tentang cinta kepada pasangan, entah itu rindu pacar, ldr, putus cinta dsb. 20% sisanya tentang alam. dan ketika sekolah mengadakan lomba cipta puisi bertema “Kebahasaan Indonesia”.

Saya heran kenapa pada waktu itu saya menjuarainya, ternyata ketika saya cari tau itu karena puisi peserta lainnya didominasi dengan diksi kalimat percintaan yang tidak selasas dengan tema perlombaan. Saya cukup heran dengan fenomena ini.

Saya tidak menyudutkan anak generasi sekarang. Saya sendiri lahir tahun ‘2002 yang terbilang baru mengenal puisi, bagaimana saya bisa mengklaim bahwa puisi saya lebih bagus dari orang lain? Tentu saja saya tidak seberani itu. Bahwa ini tentang ‘konsumsi puisi’, anak generasi milenial (tidak semuanya) lebih banyak mengonsumsi asupan puisi romance, novel yang bertema alur percintaan, bahkan sampai di-film kan. Bisa kita sadari kan? Banyak film romansa anak sekolah, anak muda-mudi pacaran lengkap dengan segala dramanya.

Alasan kedua, adalah kurang dalamnya makna atau amanat. Baiknya kita tidak hanya fokus memperkaya diksi tapi juga memperdalam makna. Memperkaya diksi di sini bukan hanya soal mengumpulkan kata-kata yang jarang dipakai dan kata-kata indah.

Misalnya kata Renjana, Bagaskara dan lain-lainnya, tapi juga mencocoklogikannnya dengan kata lain yang mudah dipahami. Saya pernah membaca satu bait puisi, dimana 4 barisnya full kata-kata yang tidak dipahami. Iya saya tahu itu kata memang indah dan jarang dipakai, tapi saya kesulitan mendapatkan maknanya, apalagi orang yang tidak paham majas.
Sebaliknya, ada yang pakai sedikit kata-kata langka, namun memiliki makna yang dalam.

BeritaLainnya

“Aku adalah kupu-kupu layu”
Menurut saya baris puisi ini bagus dan memiliki makna yang cukup dalam. Puisi bukan hanya semata-mata rangkaian kata yang indah dan sulit dipahami, sampai kita malah lupa menginput amanatnya, sehingga output yang keluar jadinya ‘Alay’. Kemudian cobalah baca bait puisi di bawah ini.

“Kau, kasihku….”
“Bagai rupa tanpa cela”
“Selalu kurindu dan kucinta”
“Engkaulah satu-satunya bidadari surga”
nah puisi yang serupa ini, akan terkesan cukup berlebihan .

Tak ada salahnya mencoba perbanyak bacaan puisi karangan sastra zaman dahulu, seperti kumpulan puisi milik Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo. Puisi-puisi mereka banyak ditujukan kepada semua orang, cinta universal, cinta kepada Tuhan, dan seni yang menyamar menjadi bait-bait puisi yang akan sayang kita lewatkan.

Puisi yang indah adalah puisi yang mengubah pola pikir. Puisi yang indah adalah puisi yang membuat kita menyadari sesuatu yang selama ini kita lupakan. Puisi yang indah itu mendidik, membimbing layaknya filosofi.

Oleh sebab itu, mari kita memperbanyak jenis bacaan dari berbagai penyair.

Selama ini, kita terbiasa fokus pada puisi-puisi atau karya sastra yang berbau kebucinan atau bermakna cinta kepada pasangan. Maka akan susah mencari makna dan amanat dari hal lain. Oleh karena itu, pola pikir serta bacaan kita harus di perbanyak serta di benahkan kembali. Semua ini sekali lagi adalah harapan untuk menjauhkan citra bahwa puisi itu alay. Bahwa puisi punya daya, warna, dan makna beragam.

 

Gayatri Mawar Wangi

Gayatri Mawar Wangi

Mahasiswa Semester 3 Ilmu Komunikasi,
FISIP Universitas IslamMajapahit

BeritaTerkait

Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terkini



Add New Playlist