Iklan Ali Prakosa

Puisi dan Kaki-Kaki Hujan Yang Runcing

 

Meski tanggal-tanggal telah berguguran, berserak, terhempas hari, bulan dan tahun baru. Puisi-puisi ku akan tetap tinggal di bilik paling dalam degub dada mu yang tabah.

Puisi ku adalah kaki-kaki hujan yang runcing yang akhir-akhir ini kerap mampir di halaman rumah mu tanpa permisi, tanpa aba-aba dan tak kenal gesa.

Mengamati tembok-tembok kedinginan sembari memunguti jejak-jejak langkah kaki mu yang kuyup sepulang bermain dan berjalan-jalan.

Puisi ku adalah air hujan yang masuk melalui sela-sela genting rumah, yang menetes pelan lalu hinggap di dipan mu yang sudah lapuk dimakan usia. Ia diam-diam menyaksikan tubuhmu yang terkulai lemah sedang rebah untuk mengistirahatkan lelah.

Malam ini, kepalamu sedang gaduh seperti pasar sebelum subuh. Dipenuhi ragam pertanyaan tentang ketiadaan juga mimpi-mimpi dan segala ambisi. Saling kejar mengejar seperti detik dan menit yang melompat bergantian.

Puisi ku tak ingin pulang malam ini. Ia ingin menjadi doa-doa yang selalu bergelayut di langit-langit rumahmu. Ingin menjadi jeda yang menenangkan batinmu. Ingin menjelma silir yang menjamah mesra wajahmu dari gigil rindu dan air wudu.

Sebelum pagi tiba, puisi ku berbisik lirih kepadamu; sungguh, aku mencintaimu hanya karena semata-mata ingin menunaikan takdir ku. Tidak lebih.

 

BeritaLainnya

Mojokerto, 29 Desember 2021

Slamet Indharto.

 

slamet indharto

Puisi Karya

Slamet Indharto S.Ikom

BeritaTerkait

Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terkini



Add New Playlist