Iklan Ali Prakosa

Perempuan Mendobrak Hantu Patriarki

Budaya Patriarki adalah distribusi kekuasaan yang tidak merata antara laki-laki dan perempuan dalam aspek-aspek tertentu di masyarakat. Dimana peran perempuan dinomer duakan setelah laki-laki, perempuan dianggap lemah dan tidak mampu menjadi pemimpin atau berkarir seperti halnya laki-laki karena dianggap lebih sensitif dengan rasa, dan tuntutan pekerjaan rumah.

 

Hal tersebut wajib dikerjakan perempuan. Hal ini sudah menjadi budaya di Indonesia, bahkan di lingkungan kita sendiri, pekerjaan domestik merupakan kewajiban bagi perempuan. Perempuan dituntut bisa mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak, menyenangkan suami namun kesusahan dalam berkarir.

Lantas apakah tugas laki-laki hanya berkarir tanpa membantu pekerjaan rumah?

Bahkan dalam ajaran islam pekerjaan rumah yang berat seharusnya dikerjakan oleh laki-laki, namun budaya di lingkungan kita ini sudah terbiasa dengan patriarki. Sehingga masyarakat berpandangan, bahwa perempuan baik adalah perempuan yang berada di rumah mengurus sang suami, dan menutup karir yang telah diimpikan. Padahal kita sebagai perempuan tentunya bisa merangkap dua pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, dan tetap berkarir. Tentu jika kita dapat bekerja sama dengan laki-laki dan menghapus patriarki yang mendarah daging di masyarakat.

Saya teringat dengan pesan ibu terhadap anak perempuannya, “Kamu nanti kalau sudah berkeluarga harus bisa masak, dandan juga yang cantik, ngurus rumah, ngurus anak dan ngurus suami. Memang banyak tugasnya maka siapkan dari sekarang tapi, jangan hanya itu kamu juga harus menjadi perempuan yang mandiri, punya penghasilan agar kamu gak begitu tergantung ke suamimu, karena kita tidak akan pernah tahu hal di depan apa yang akan terjadi.

 

Jodoh bisa terputus, dan anak-anak akan menjadi tanggunganmu.” Tidak hanya pada anak perempuan saja, ibu juga memberi nasihat pada anak laki-lakinya, “Kamu juga sebagai laki-laki yang akan memimpin keluarga harus pinter cari nafkah, tapi ya gak hanya itu kamu harus bantu istrimu ngurus rumah jangan pulang hanya numpang tidur sama makan aja. Kasih perhatian dan didik anak juga, mendidik anak itu tugas keduamya bukan cuma tugas istri.

 

Orang berumah tangga itu keduanya saling bahu membahu, saling mengisi, bukan berat sebelah.” Mengingat pesan tersebut hari ini, saya baru paham ternyata pesan tersebut bukan sembarang pesan, melainkan pesan yang begitu berarti yang akan kita gunakan kelak jika sudah berkeluarga. Tentu jika laki-laki dan perempuan dapat bekerja sama tidak ada pihak yang merasa di beratkan.

Meski dalam salah satu ayat Al-Qur’an disebutkan bahwa semua makhluk sama di mata Allah. Tetapi mengapa masih ada pandangan bahwa kualitas perempuan diranah pekerjaan dan profesi tidak sama dengan laki-laki, anggapan perempuan lemah masih terjadi sampai hari ini. Meskipun telah dibuktikan oleh adanya pemimpin perempuan ditataran pemerintahan, seperti Gubernur Jawa Timur, Walikota Surabaya, Walikota dan Bupati Mojokerto, dan lain-lain.

Tetapi hal tersebut masih kurang jika dilihat dari jumlah kuota perempuan di tataran politik pemerintahan yang masih dibilang rendah. Tidak hanya itu, bahkan sulitnya perempuan berkarir bisa kita lihat dari lowongan pekerjaan yang mengharuskan perempuan berpenampilan menarik, harus muslim, rajin sholat dan lain-lain. Menurut saya hal tersebut terlalu mendiskriminasi, dan mengikut campur kehidupan pribadi seseorang.

Saya mengetahui langsung sedikitnya kuota perempuan diranah pemerintahan dari kakak saya, dia bekerja di salah satu lembaga pemerintahan, ketika mendaftar seleksi begitu ketat karena hanya dibutuhkan lima orang saja dalam 1 wilayah kabupaten. Dan kakak saya adalah satu-satunya perempuan yang lolos dari lima kuota yang diberikan.

 

Saat bekerjapun, saya melihat kakak lebih sering berinteraksi dengan laki-laki karena sedikitnya kuota perempuan. Menurut kakak saya sedikitnya kuota perempuan di ranah pemerintahan adalah karena adanya anggapan ‘kurang tatak’ atau mudah membawa rasa jika ada suatu hal yang menimpanya.

BeritaLainnya

 

Dari situ saya berpikir, apakah hanya perempuan saja yang dianggap ‘kurang tatak’ padahal saya sering melihat pemimpin dan orang-orang diranah pemerintahan yang bergender laki-laki kurang tegas dalam menindaklanjuti perkara, ada pula yang grusah-grusuh, dan tidak bertanggung jawab. Bagi saya, perempuan adalah makhluk kuat, perempuan dibekali akal serta perasaan yang kental, sehingga jika diberi kepercayaan memimpin, perempuan akan memperhatikan orang-orang sekitar dengan ketulusan hati namun masih dalam kendali akal.

 

Diskriminasi dalam ranah bekerja yang saat ini lagi trend adalah mengenai penampilan perempuan, lowongan pekerjaan sekarang mengutamakan perempuan dengan kriteria berpenampilan menarik dari pada perempuan yang lebih punya bakat minat.

Lantas, ada anggapan apakah perempuan yang tidak menarik tidak boleh bekerja?

Apakah mereka yang tidak berpenampilan menarik atau bahkan golongan disabilitas dilarang mencari uang untuk bertahan hidup?

Hal ini sering dirasakan oleh teman-teman perempuan saya. Mereka merasa minder sebelum mencoba, merasa kurang cantik, kurang menarik, dan tidak memenuhi standarisasi kecantikan yang dibuat oleh iklan televisi sehingga membatalkan niatnya untuk mendaftar kerja dengan syarat yang tertera dilowongan pekerjaan ‘berpenampilan menarik’.

Meskipun definisi berpenampilan menarik ini tidak hanya untuk dia yang cantik, namun kata tersebut sudah mendiskriminasi ditambah harus datang ketempatnya langsung. Belum lagi saat bekerja ada lagi tuntutan memakai baju dengan kriteria atasan seperti baju ketat dan terlalu mini sehingga ada beberpa perempuan yang tidak nyaman dengan hal itu.

Pengalaman lain dari teman saya yang bekerja di salah satu event organizer juga hampir sama, mereka yang dianggap cantik akan lebih dihargai dan tidak disalahkan meski melakukan kesalahan, namun mereka yang dianggap kurang menarik akan menjadi objek sasaran kesalahan.

Budaya macam apa yang beredar dimasyarakat kita ini?

Kita sebagai perempuan sudah seharusnya merawat diri, itupun juga berlaku bagi laki-laki.

Lantas apakah kita juga akan merubah bentuk tubuh yang telah dititipkan tuhan pada kita?

Tentu jangan, perempuan punya standarisasi cantiknya masing-masing. Kita cantik, dan kita mampu berkarir sesuai potensi yang kita punya setinggi-tingginya tanpa menyakiti diri untuk merubahnya menjadi standarisasi cantiknya masyarakat.

Untuk itu, adanya gerakan-gerakan perempuan di Indonesia merupakan suatu bentuk dobrakan atas budaya-budaya patriarki di masyarakat. Seperti gerakan perempuan dalam mensosialosasikan keadilan dan kesetaraan gender di ruang publik. Kemudian adanya kajian-kajian mengenai pemberdayaan perempuan dapat membantu sudut pandang masyarakat terkait budaya patriarki.

Sehingga dengan penyebarluasan informasi mengenai kesetaraan gender, sedikit demi sedikit masyarakat akan melek terhadap isu perempuan. Dengan harapan, adanya support yang terjadi baik sesama gender maupun yang berbeda gender.

 

Mahasiswa Unim, Hajar Estina
Hajar Estina

 

Hajar Estina
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIM

BeritaTerkait

Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terkini



Add New Playlist