Iklan Ali Prakosa

Galian C Rusak Aliran Sungai Dua Desa di Gondang, PSPLM Tagih Polres Bertindak

Rusak Aliran Sungai, Galian C, Psplm, tagih polres mojokerto
Anggota PSPLM saat mendatangi kantor Satreskrim Polres Mojokerto pada Jumat (27/8/2021) siang ha11ri.(foto doc lenteramojokerto.com)

Mojokerto, Lenteramojokerto.com – Mendapatkan keluhan warga terkait aktivitas pertambangan galian C yang sebelumnya diresahkan warga lantaran diduga rusak aliran sungai, membuat PSPLM kembali mendatangi kantor Polres Mojokerto, Jumat (27/8/2021).

Kedatangan Paguyuban Srikandi Peduli Lingkungan Majapahit (PSPLM) untuk menagih ke pihak polres mojokerto agar segera menindak-lanjuti aktivitas galian c di perbatasan desa Kebontunggul dan dusun Pandansari, Desa Wonoploso, Kecamatan Gondang yang disinyalir mengancam kelestarian sungai.

“Iya mbak, jadi tujuan kita kemari untuk mengklarifikasi laporan mengenai aktivitas galian yang diduga rusak aliran sungai, namun staf Reskrim mengatakan bahwa Kanit Reskrim sedang tidak bisa ditemui,” kata anggota PSPLM, Sumartik kepada Lenteramojokerto.com, Jumat (27/8/2021).

LSM yang fokus dalam pelestarian lingkungan juga mengaku bahwa pihaknya sudah pernah melakukan pelaporan galian c milik Yudo Utomo pada bulan April, namun sampai sekarang pihak kepolisian terkesan jalan di tempat.

BeritaLainnya

“Bulan April kita pernah melaporkan 3 titik galian c bermasalah ke Polres Mojokerto, termasuk milik Yudo Utomo. Tapi sampai sekarang, tidak ada apa apa,” ungkapnya.

Emak-emak pemerhati lingkungan asal desa Jatidukuh mengatakan akan tetap mengupayakan untuk menghentikan aktivitas galian c tersebut.

“Kita sudah mengupayakan untuk melapor, dan bertemu dengan reskrim, maupun penyidik, tapi mereka sulit ditemui. Selanjutnya kita pasrahkan saja pada yang kuasa, yang penting kita tetap berusaha. ” tegas Sumartik.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Selasa (24/8/2021), warga kembli mereshkan aktivitas pertambangan (mining) Galian C yang diduga ilegal dan mengancam aliran sungai yang terletak Desa Kebuntunggul dan Desa Wonoploso Kecamatan Gondang.

Salah satu warga yang mengeluhkan (F), warga dusun Pandansari, mengkhawatirkan dampak dari galian tersebut yang menurutnya bisa membuat sawah warga longsor karena tidak ada batu penyangga.

“Sudah satu minggu mengambil batu di sungai sejauh 7 meter. kita takut nanti kalau diteruskan, saawah warga yang berada di dataran yang lebih tinggi longsor karenannya (penambangan),” ujarnya kepada lenteramojokerto.com, Selasa (24/8/2021).

Masih kata (F), Pengusaha pertambang terbilang cerdik. Pasalnya, selama melakukan pengambilan batu sungai tersebut, Penambang hanya menjalankan pada jam-jam tertentu, yakni sekitar pukul 06.00 WIB dan sekitar pukul 17.00 WIB.

“Ya mungkin agar tidak diketahui warga, soalnya saat mengambil batu tidak sepanjang hari, melainkan jam-jam tertentu,” pungkasnya. (Est/Diy).

BeritaTerkait

Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terkini



Add New Playlist