Iklan Ali Prakosa

Aktivitas Galian C Mengancam Aliran Sungai di Dua Desa Kecamatan Gondang Kembali Resahkan Warga

Aliran Sungai, Galian C, Gondang
Aktifitas Galian C di perbatasan desa Kebontunggul dan dusun Pandansari, Desa Wonoploso, Kecamatan Gondang

Mojokerto, Lenteramojokerto.com – Aktivitas pertambangan (mining) Galian C yang diduga ilegal dan mengancam aliran sungai membuat warga Desa Kebuntunggul dan Desa Wonoploso Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto Resah.

Keresahan warga Pandansari lantaran pertambangan yang diketahui milik pengusaha Yudo Utomo yang terletak di perbatasan desa Kebontunggul dan dusun Pandansari, Desa Wonoploso, Kecamatan Gondang tersebut diduga merusak aliran sungai.

 

Menurut keterangan warga dusun Pandansari yang berinisial (F), aktivitas pertambangan tersebut  sudah sekitar satu minggu melakukan pengambilan batu di sungai tersebut sekitar 7 meteran. Ia juga mengkhawatirka dampak dari galian tersebut yang menurutnya bisa membuat sawah warga longsor karena tidak ada batu penyangga.

“Sudah satu minggu mengambil batu di sungai sejauh 7 meter. kita takut nanti kalau diteruskan, saawah warga yang berada di dataran yang lebih tinggi longsor karenannya (penambangan),” ujarnya kepada lenteramojokerto.com, Selasa (24/8/2021).

 

Masih kata (F), Pengusaha pertambang terbilang cerdik. Pasalnya, selama melakukan pengambilan batu sungai tersebut, Penambang hanya menjalankan pada jam-jam tertentu, yakni sekitar pukul 06.00 WIB dan sekitar pukul 17.00 WIB.

“Ya mungkin agar tidak diketahui warga, soalnya saat mengambil batu tidak sepanjang hari, melainkan jam-jam tertentu,” jelasnya.

Aktivitas pertambangan yang terletak di perbatasan antara desa Wonoploso dengan desa Kebontunggul tersebut juga sempat dilaporkan ke pihak Kepolisian, namun karena tidak ada kejelasan rencananya warga akan menggandeng Paguyuban Srikandi Peduli Lingkungan (PSPLM) untuk menanyakan kembali perkembangan kasus tersebut ke pihak Polres Mojokerto.

“Minggu-minggu ini kami akan datangi polres, ini masih kontak-kontak sama PSPLM,” pungkasnya

Senada dengan warga Wonosari, kepala Desa Kebuntunggul, Siandi SH. MM juga menyampaikan keresahan warganya dengan adanya penambangan batu di aliran sungai yang menjadi perbatasan di wilayahnya.

 

BACA JUGA :  Kejaksaan Endus Praktik 'Pembiayaan Topeng' di BPRS Kota Mojokerto

“Penggalian di lakukan di aliran sungai perbatasan desa kami, dan kami berharap penambangan galian C ini tidak merambah ke wilayah Desa Kebuntanggul” kata Kepala Desa Kebuntunggul, Siandi.

 

Kades menambahkan bahwa sungai tersebut merupakan satu satunya sumber aliran lahan pertanian warga sekitar.

“Sungai ini merupakan satu satunya sungai yang mengairi lahan pertanian di sekitar, maka galian ini  harus dihentikan,” pungkasnya.

 

Sementara ditempat terpisah salah satu  pemerhati Peduli lingkungan Srikandi, Martik mengatakan penambangan di sekitar sungai tidak di benarkan.

 

“Penambangan itu dilakukan di dalam sungai, dan ini tidak di benarkan dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan sekitar” ujar LSM Paguyupan Srikandi Peduli Lingkungan Majapahit(PSPLM), Sumartik

 

Ia menambahkan, dampak nya bisa menghancurkan wilayah dan tempat wisata di sekitar Bencirang

“Dampaknya bisa merusak wilayah Kebontanggul dan tempat wisata Bencirang” imbuhnya

Sumartik juga mengatakan bahwa PSPLM akan segera mendatangi Polres Mojokerto untuk mempertanyakan kejelasan dari pelaporan sebelumnya.

“Dekat-dekat ini kami akan datangi Polres Mojokerto,” pungkasnya. (Diy)

 

BeritaTerkait

Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terkini



Add New Playlist