Iklan Ali Prakosa

Korban Pencabulan di Ponpes Kutorejo Bertambah Menjadi 4 Santriwati

Kutorejo, Lenteramojokerto.com Korban pencabulan anak dibawah umur yang dilakukan pengasuh Ponpes di Kecamatan Kutorejo, Mojokerto kini bertambah menjadi empat.

Menurut pengacara para korban, M Dhoufi mengatakan, kasus pencabulan yang dilakukan oleh AM kini bertambah tiga korban baru yang diantaranya gadis berusia 12 tahun asal lamongan, dan kakak beradik asal surabaya berusia 12 dan 10 tahun.
“Saat ini total ada 4 korban, ada tambahan tiga korban,” kata Dhoufi pada awak media, Rabu (27/10/2021).

Ketiga korban baru, lanjut Dhoufi, sudah dimintai keterangan dan sudah di BAP oleh penyidik.
“Tiga korban baru dalam pengakuan awal dicabuli saja oleh tersangka. Para korban sudah dimintai keterangan,” ungkapnya.

Korban pencabulan, bertambah, ponpes
Pengacara para korban, M Dhoufi

Dhoufi juga menjelaskan, dalam melancar aksi bejatnya, AM diduga mendatangi korban pencabulan menjelang tengah malam saat korban sedang tidur pulas.
“Santriwati dibujuk untuk taat terhadap gurunya supaya mendapatkan berkah dari kiai atau ustaz,” paparny

Sedangkan korban pertama adalah santriwati asal Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Gadis berusia 14 tahun 8 bulan itu diduga dicabuli sekaligus diperkosa oleh AM sejak 2018 sampai 2021.

Modusnya, AM diduga mencabuli korban yang tidur pulas di asrama santri putri, menjelang tengah malam. Saat korban terbangun, tersangka lantas mengajaknya ke kamar kosong di bagian belakang asrama.

AM meminta dipijat oleh korban di kamar tersebut. Selanjutnya tersangka memerkosa korban. Untuk melancarkan aksinya, ia meminta korban menuruti kemauannya agar mendapatkan berkah dari guru. Selain itu, ia juga mengiming-imingi akan memperistri korban.

BeritaLainnya

“Kalau korban pertama sejak 2018 sampai 2021 hampir tiap bulan diperlakukan seperti itu,” ungkap Dhoufi.

Sampai saat ini, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko belum bisa dikonfirmasi terkait perkembangan kasus tersebut.

Seperti pemberitaan sebelumnya, pimpinan pondok pesantren (ponpes) Darul Muttaqin, di Kecamatan Kutorejo, kabupaten Mojokerto dilaporkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto dengan dugaan pencabulan dan penyetubuhan seorang santriwati, Selasa (18/10/2021).

 

Korban yang masih berusia 14 tahun merupakan seorang santriwati asal Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Sedangkan pelaku diketahui bernama Achmad Muhlish (52).

 

“Korban adalah santriwati dari saudara AM,” kata Pengacara Korban, M Dhoufi kepada wartawan di Mapolres Mojokerto, Jalan Gajah Mada, Kecamatan Mojosari,

Dalam pengakuankorban, dirinya sudah dicabuli dan disetubuhi oleh pelaku sejak 2018 di salah satu kamar asrama santri putri yang tidak ditempati dalam pondok,

“Bermula pencabulan tiga kali, terakhir ada hubungan itu satu kali. Jadi, korban disetubuhi satu kali,” terang Dhoufi.

Gadis tersebut, lanjut Dhoufi, akhirnya merasa jengah. Bahkan, korban sempat menolak saat diduga akan kembali disetubuhi pelaku pada 15 September 2021.

 

Korban pun memilih mengadu kepada orang tuanya. Tak terima putrinya mendapat perlakuan bejat pelaku, orang tua korban pun melaporkan pelaku ke Polres Mojokerto pada Jumat (15/10).

Achmad Muhlish (52) akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan tersebut diketahui dari Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang diterima Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto dari kepolisian, Selasa (19/9/2021).

“Dalam SPDP yang diterima Kejaksaan pada Selasa kemarin, Statusnya (Achmad Muhlish) sudah menjadi tersangka,” kata Ivan Yoko, Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto, Rabu (20/10/2021).

AM disangka dengan pasal 82 ayat (1) UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU RI nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang. (Diy)

BeritaTerkait

Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terkini



Add New Playlist