info kecelakaan, berita hari ini, politik, kriminal, hukum, peristiwa, terupdate, viral, Indonesia, Internasional, terbaru, berita mojokerto, mojokerto” /> adalah portal berita Indonesia hari ini meliputi, berita politik, kriminal, hukum, peristiwa, terupdate, berita viral, dari Indonesia hingga Internasional, terbaru” />
ADVERTISEMENT

Pimpinan Ponpes Darul Muttaqin Bantah Tuduhan Pencabulan Santriwatinya

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on pinterest
santriwati, cabul, setubuhi, ponpes, kutorejo
Foto Pelaku saat didampingi pengacaranya

 

 

Kutorejo, Lenteramojokerto.com – Pimpinan pondok pesantren (Ponpes) Darul Muttaqin, Achmad Muhlish (52) membantah atas tudingan pencabulan dan pemerkosaan terhadap santriwatinya yang masih berusia 14 tahun

 

Melalui pengacaranya ia menjelaskan bahwa ponpes yang berada di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto dibagi menjadi dua tempat dan terpisah antara ponpes putra dengan ponpes putri.

 

Pondok putra berada di Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo dikelola Achmad Muhlish. Sedangkan pondok putri di Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo dikelola dua putri dan menantu AM. Sedangkan Achmad Muhlish (52) sendiri hanya sesekali datang ke ponpes putra, sekedar melakukan pengecekan.

BACA JUGA :  Kemensos Malas Sanksi Pendamping PKH yang Merankap Supplier BPNT di Mojokerto

 

santriwati, cabul, setubuhi, ponpes, kutorejo
Pelaku saat didampingi pengacaranya

“Abah Achmad Muhlish  kan pengelola pondok putra, itu jauh sekali hampir 1 km. Tidak logislah, kalau memang terjadi pemerkosaan ketemunya di mana, pada saat kapan. Yang mengajar kan bukan Abah, yang mengajar putri-putri dan menantunya. Abah tinggal di pondok Sampang. TKP yang dituduhkan di pondok putri di Desa Simbahringin,” kata Matyatim, pencara Achmad Muhlish, Selasa (19/10/2021).

BACA JUGA :  Kasus Limbah di Bekas Galian C Mojokerto, Polres Uji Sampel ke DLH Jatim

 

Kondisi pondok putri, lanjut Matyatim, selama ini belum ditutup menggunakan pagar keliling. Sehingga belum ada sekat antara lingkungan pesantren dengan masyarakat di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat pengurus pondok kesulitan mengontrol para santriwatinya.

 

“Pondok putri tidak ada batas sehingga tidak bisa dilokalisir antara pondok dengan kampung. Bisa dimungkinkan pelakunya orang lain,” terangnya.

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on pinterest

Berita Terkait

Menarik_ Lainnya

Berita Lainnya

Lentera Sastra