ADVERTISEMENT

Putusan MA Dalam Sengketa Lahan Di Modopuro Dinilai Janggal, Ahli Waris Duga Ada Permainan Di PN

Sengketa lahan, PN, MA, Modopuro, Mojosari
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on pinterest
Share on google
Sengketa lahan, PN, MA, Modopuro, Mojosari, Putusan MA
Tanah Ahli Waris (Sumai) saat disita

Lenteramojokerto.com| Mojokerto – Putusan Mahkamah Agung (MA) atas sengketa lahan di Dusun Gedang Desa Modopuro Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto dinilai janggal. Pasalnya, putusan MA yang memenangkan Wuliyono atas tanah bangunan seluas 902 meter persegi tersebut berdasarkan alat bukti Leter C. Padahal tanah tersebut sudat terbit sertifikat atas nama Ngadi sejak tahun 2004 lalu.

 

Janggalnya putusan itu lantaran dalam Leter C tidak tercantum luas tanah, sehingga pemilik sertifikat mempertanyakan putusan MA tersebut. Selain itu, Sumai yang merupakan ahli waris menduga ada permainan mafia peradilan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto.

“Saat sidang, saksi yang dihadirkan oleh tergugat bukan orang yang mengetahui kronologi dan tidak ada hubungan dengan riwayat tanah itu. Tapi anehnya oleh hakim pernyataan saksi-saksi itu diterima,” kata Sumai, Kamis (24/6/2021).

 

Tak hanya itu menurut Sumai kejanggalan lainya, saat persidangan Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang merupakan institusi penerbit sertifikat tidak hadir. Bahkan, oleh hakim, BPN tidak pernah dipanggil untuk menjadi saksi.

“Ada dugaan permainan mafia tanah. Kita mencari keadilan. Semua orang desa sudah tahu kalau itu bukan tanah mereka. Aparatur desa sudah tahu kronologinya tapi anehnya diam saja,” tuturnya.

 

Lebih lanjut Sumai mengatakan kasus sengketa ini sejak 2016 lalu. Berbagai upaya sudah dilakukan termasuk sampai tingkat banding hingga kasasi, namun pengadilan tetap memutuskan berpedoman pada Letter C yang menjadi alat bukti Wuliyono dan kawan-kawan. Bahkan, ditinggkat kasasi ternyata keputusan dikembalikan kepada Pengadilan Negeri Mojokerto alias kasasi ditolak.

Berita Terkait