ADVERTISEMENT

Harga Cabai Meroket, Petani Cabai Rela Tidur di Kebun

Foto : Petani cabai menunjukan hasil panen.
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on pinterest
Share on google
Foto : Petani cabai menunjukan hasil panen.

Lenteramojokerto.com I Mojokerto – Sejumlah petani cabai di Kecamatan Dawar Blandong tidur di kebun menjaga tanaman cabai milik mereka dari pencuri. Hal itu dilakukan lantaran harga cabai yang meroket dikhawatirkan menarik pencuri untuk melakukan aksinya.

Seperti yang dilakukan Triaji (58), petani cabai di Desa Jatirowo, Kecamatan Dawarblandong. Ia mempunyai kebun cabai dengan luas sekitar 33 x 10 meter persegi. Tanaman tersebut kini berumur 2 bulan lebih karena ditanam pertengahan Desember tahun lalu.

Sama dengan petani cabai lainnya di Dawarblandong, masa panen di Jatirowo dimulai akhir Februari 2021. Selama satu bulan terakhir, Triaji bersama petani lainnya rela menginap di kebun cabai untuk mencegah pencurian.

“Karena keadaan harga cabai mahal. Harga di petani tidak merata, paling rendah Rp 80.000/kg, tertinggi Rp 115.000/kg,” kata Triaji, Rabu (24/3/2021).

Harga cabai rawit di petani tahun ini memang sedang pedas-pedasnya. Karena tahun lalu, cabai di petani paling tinggi Rp 60.000/Kg. Bahkan harganya jatuh saat panen raya menjadi Rp 10.000/Kg.

Oleh sebab itu, Triaji dan petani cabai lainnya di Jatirowo menjaga kebun mereka selama 24 jam selama musim panen tahun ini.

“Penjagaan dilakukan dengan sistem gotong-royong sehingga saling bergantian.
Kami khawatir dicuri. Pencurian pernah terjadi, tapi tidak sering, pelakunya bukan orang luar,” terangnya.

Berita Terkait