ADVERTISEMENT

Mitos Watu Blorok dan Bunyikan Klason Bagi Kendaraan Yang Lewat

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on pinterest
Foto Foto : Watu Blorok yang dikeramatkan masyarakat sekitar.
Foto : Watu Blorok yang dikeramatkan masyarakat sekitar.

Lenteramojokerto.com I Mojokerto – Bagi pengguna jalan di area hutan Dawar Blandong dan Jetis, pasti melihat sebuah batu berukuran besar di sebelah jalan raya.

Batu yang dibungkus kain putih oleh warga sekitar Desa Kupang Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto disebut Watu Blorok. Watu Blorok menyimpan mitos bagi masyarakat sekitar yang masih diyakini hingga kini yakni jika melewatinya harus membunyikan klakson.

BACA JUGA :  Misteri Komplek Pemakaman Prajurit Mataram di Bangsal, Konon Ada Candi Terkubur

Batu ini dianggap keramat sehingga masih menjadi tempat ritual untuk berbagai tujuan oleh sebagian orang. Nampak bekas dupa dan bunga terlihat di area batu yang lokasinya tepat disamping jalan raya itu.

Watu Blorok berada persis di tepi jalan penghubung Mojokerto dengan Gresik. Tepatnya sekitar 100 meter dari permukiman penduduk Dusun Pasinan, Desa Kupang.

“Membunyikan klakson sudah menjadi kebiasaan warga sini saat lewat Watu Blorok. Itu sebagai tanda permisi ke para penghuni yang tidak kasat mata,” kata Musawamah (42), warga Dusun Pasinan.

BACA JUGA :  Misteri Komplek Pemakaman Prajurit Mataram di Bangsal, Konon Ada Candi Terkubur

Musawamah menjelaskan masyarakat Kupang masih meyakini mitos keangkeran Watu Blorok dan hutan di sekitarnya. Kawasan hutan tersebut juga dinamai dengan Watu Blorok. Sejumlah kecelakaan di jalur yang membelah hutan itu diyakini karena gangguan makhluk gaib.

“Ada yang mengaku setirnya direbut makhluk gaib hingga celaka, ada juga yang terjatuh karena mengindari bayangan putih yang melintas. Biasanya karena lewat tidak permisi,” ujar ibu dua anak ini.

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on pinterest

Berita Terkait

Menarik_ Lainnya

Berita Lainnya

Lentera Sastra