HOME // Budaya

 

Candi Wringin Lawang

 Pada: 27 Februari 2021

"Foto

Lenteramojokerto | Budaya – Candi Wringin Lawang atau yang lebih terkenal dengan Gapura Wringin Lawang merupakan tempat berserajarah peninggalan kerajaan Majapahit.

Gapura ini berlokasi di Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Tepatnya, bangunan ini terletak tak jauh ke arah selatan dari jalan utama di Jatipasar.
Dalam bahasa Jawa, Candi Wringin Lawang mempunyai arti ‘Pintu Beringin’.

Pengambilan nama ini juga dari bentuk candi yang merupakan sebuah gapura.Wringin artinya beringin, sedangkan Lawang adalah pintu, Wringin Lawang berarti sebuah candi yang berbentuk seperti pintu.

Wringin Lawang merupakan salah satu situs yang berbentuk gapura tanpa atap. Menurut sejarah, candi ini perkiraan menjadi gapura menuju salah satu kompleks bangunan yang berada di kota Majapahit.

Walaupun belum dapat dipastikan apakah gapura ini menjadi pintu masuk atau keluar.Tidak banyak yang diketahui tentang masa pembangunan maupun fungsi candi ini. Dalam tulisan Raffles tahun 1815, Menyebut bangunan kuno ini dengan nama Gapura Jati Paser.

Sebutan itu kemungkinan berkaitan dengan nama desa tempat candi itu berada pada zaman dahulu. Dalam tulisan Knebel tahun 1907, gapura ini disebut sebagai ‘Gapura Wringinlawang.

BACA JUGA :  Candi Tikus Peninggalan Kerajaan Majapahit

Candi Wringin Lawang

Candi Wringin Lawang merupakan candi tipe bentar, yaitu gapura yang bangun tanpa atap. Candi bentar biasanya berfungsi sebagai gerbang terluar dari suatu kompleks bangunan.

Menilik dari bentuk bangunannya, Gapura Wringinlawang diduga merupakan gapura menuju salah satu kompleks bangunan yang berada di kota Majapahit. Gapura Wringinlawang telah mengalami pemugaran yang dilaksanakan sejak tahun 1991 sampai dengan tahun 1995.

Keseluruhan bangunan yang menghadap timur-barat ini terbuat dari bata merah. Fondasi gapura berbentuk segi empat dengan ukuran 13 x 11,50 meter.

Sebelum pemugaran, belahan selatan gapura masih utuh, berdiri tegak dengan ketinggian 15,50 m, sementara belahan utara hanya tersisa 9 meter.
Pada sisi kiri dan kanan tangga naik menuju celah di antara kedua belahan gapura terdapat dinding penghalang setinggi sekitar 2 m. Celah di antara kedua belahan gapura tersebut cukup lebar.

Tidak tampak ukiran atau relief di dinding candi yang bisa di analisis. Atap candi berbentuk piramida bersusun dengan puncak persegi. Bentuk atap maupun hiasan pola piramida terbalik pada atap candi mirip dengan yang terdapat di Candi Bajangratu.

Dalam perkiraan, pembangunan candi peninggalahan Kerajaan Majapahit ini terjadi pada abad ke-14.
Gaya arsitektur candi bentar seperti ini, kemungkinan muncul pada era Majapahit dan kini banyak ditemukan dalam arsitektur Bali.

BACA JUGA :  Kolam Segaran Trowulan Wujud Teknologi Pengairan Era Majapahit

Kebanyakan sejarawan sepakat bahwa gapura ini adalah pintu masuk menuju kompleks bangunan penting di ibu kota Majapahit.

Pak Sholeh Sebagai Juru kunci Candi Wringin Lawang mengatakan, Pembangunan situs peninggalan satu ini dulunya bertujuan sebagai gerbang masuk menuju Keraton Majapahit. Sehingga tidak perlu heran jika tidak menemukan satupun pahatan pada dindingnya ungkapnya.

Namun sebagian masyarakat sekitar mempercayai bahwa Candi Wringin Lawang merupakan pintu masuk menuju kediaman Patih Gajah Mada. Kehadiran arca Ganesha cukup besar yang berada tepat di jalan masuk menuju kawasan candinya memperkuat pernyataan tersebut.
Filosofi Candi Wringin Lawan Dalam sebuah karya kerajaan masa lalu, tentu semuanya terdapat makna yang dalam secara filosofis.

Candi Wringin Lawang juga memiliki makna secara filosofis. Meski kadang-kadang tafsir makna filosofis tersebut tidak sama dari masing-masing penafsir.

Makna Filosofis Gapura Wringin Lawang

Di bawah ini adalah makna secara filosofis yang terkandung di dalam bangunan Gapura Wringin Lawang:

  1. Melambangkan Gunung Mahameru.
    Gunung Mahameru ini mengartikan sebagai persemayaman para dewa pada masa itu.
  2. Gapura Wringin Lawang terbelah dua
    Juga berarti, sebagai konsep dualisme atau pasangan yang selalu ada di dunia, seperti kiri-kanan, atas-bawah, terang-gelap, laki-perempuan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Bentuk terbelah ini ada juga yang menafsirkan dengan lambang kesuburan.
  3. Gapura Kecil yang menempel ini bisa terlihat jika dari luar yang letaknya pada bagian induk. Gapura kecil ini menggambarkan sebagai gerbang yang rakyat miliki dan yang lebih besar merupakan milik dari raja.
BACA JUGA :  Polda Jatim Juga Tangkap Warga Trowulan Pemasok Senpi Rakitan ke Bandar Sabu

Hal ini memiliki arti sebagai kebijaksanaan raja lebih besar dari pada kekuasaan rakyat, namun rakyat sepenuhnya berada dalam perlindungan kekuasaan dan kebijaksanaan raja.

Candi ini berlokasi di Dukuh Wringin Lawang, Desa Jati Pasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Untuk menuju ke sini, pengunjung bisa melewati jalur utama Mojokerto – Jombang dengan menempuh waktu selama kurang lebih 20 menit dari Kota Mojokerto.

Setelah sampai di daerah Jati Pasar, pengunjung cukup sedikit masuk ke dalam gang yang terpasang petunjuk arah menuju Candi Wringin Lawang di depannya. Ikuti jalan kecil tersebut hingga menemukan lokasi wisata lokasi.









Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.




VIDEO TERKINI