HOME // Budaya

 

Candi Brahu Merupakan Candi Tertua di Majapahit

 Pada: 27 Desember 2020

Candi Brahu Merupakan Candi Tertua di Majapahit
Candi Brahu

lenteramojokerto.com | Mojokerto hari Ini – Dikutip dari lenterainspiratif.id bahwa Candi Brahu merupakan candi tertua yang dipercaya telah ada sebelum kerajaan Singasari, Majapahit, dan Kediri berdiri yakni sekitar abad ke 15 M dengan dugaan adanya Prasasti Alasanta yang ditemukan di sebelah barat candi yang dibangun pada masa Raja Mpu Sindok dari kerajaan Medang Kamulan. Candi Brahu sendiri terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang dikelilingi oleh 4 candi yakni Candi Gentong 1 dan 2, Candi Muteran, dan Candi Gedong.

Candi Brahu memiliki kaki candi yang disusun menjadi dua bagian yakni begian bawah dengan ketinggian sekitar 2 meter dan memiliki tangga di sisi barat menuju ke selasar pertama selebar sekitar 1 meter, dan dari selasar pertama terdapat tangga dengan ketinggian sekitar 2 meter menuju ke selasar kedua, dan di atas selasar kedua terdapat tubuh candi. Sedangkan untuk sisi barat, terdapat lubang seperti pintu dengan ketinggian sekitar 2 meter dari selasar kedua. Dan pada puncak candi terdapat sumur.

BACA JUGA :  Kolam Segaran Trowulan Wujud Teknologi Pengairan Era Majapahit

Sebelum nama Brahu disematkan, nama candi ini sebelumnya adalah Warahu atau Warahu yang berati tempat pemuja. Warga sekitar mengasumsikan bahwa dahulu Candi Brahu menjadi tempat pembakaran mayat, akan tetapi asumsi seperti itu masih menjadi asumsi tak bermakna karena menurut para peneliti tidak ditemukan bukti untuk membuktikan asumsi masyarakat tersebut. Candi Brahu juga telah mengalami dua kali pemugaran yakni pada tahun 1920 dan 1995.

Candi Brahu menjadi salah satu peninggalan kerajaan yang identik dengan ajaran Buddha terutama pada desain bangunannya, sehingga tak jarang pula candi ini menjadi salah satu tujuan wisata keagamaan baik bagi kaum Buddha baik lokal maupun luar kota untuk digunakan sembayangan, “Khusus candi brahu identik dengan orang Semarang, Jogja, Solo yang memakai belangkon, dan Bali yang memakai tabanan. Jadi mereka (orang Semarang, Jogja, Solo, dan Bali) sering kesini untuk bertapa atau mengirim sesajian” jelas Oni salah seorang petugas pemerintahan daerah.

BACA JUGA :  Pendopo Agung, Petilasan Pendiri Majapahit

Akan tetapi, saat ini fungsi Candi Brahu bukan hanya digunakan untuk upacara keagamaan atau acara-acara tertentu saja, karena tak jarang pula Candi Brahu menjadi pilihan lokasi untuk melakukan pemotretan prewedding, wisata, atau hanya sekedar jalan-jalan saja. Sedangkan untuk kebersihan, tentu wilayah candi sering di lakukan pembersihan bahkan setiap hari yang dilakukan oleh petugas kebersihan ataupun dari petugas Dinas Purbakala. Sehingga candi masih bisa terjaga dan terawat meskipun sering dipadati oleh pengunjung. (Nabila)









Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.




VIDEO TERKINI