HOME // Terkini

 

Kesaksian kisah Sebenarnya Riyanto Banser Sang Penyelamat Gereja

 Pada: 26 Desember 2020

Terungkap kisah Sebenarnya Riyanto Banser Sang Penyelamat Gereja
 Aiptu Agus Tugas Prayitno Handoko

Lenteramojokerto.com  | Mojokerto Hari ini – Natal tahun 2000 di Mojokerto meninggalkan kenangan pedih bagi masyarakat, dimana hari itu sebuah gereja menjadi sasaran aksi terorisme yang meletakkan bom di area gereja, dalam peristiwa tersebut turut menewaskan seorang anggota Banser atau Barisan Serbaguna Nahdatul ulama Mojokerto yang mencoba menyelamatkan jemaat gereja dengan membawa lari bom tersebut.

Dari cerita yang beredar, Riyanto merupakan martir dalam insiden bom malam misa Natal tahun 2000 di gereja Eben Haezer Jalan Kartini, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Dalam cerita itu, menyebut bahwa pemuda kelahiran 23 November 1975 asal Kelurahan/Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, itu tewas dengan kondisi memeluk bom saat melakukan penjagaan misa natal di gereja tersebut.

Namun seorang saksi kunci membantah cerita yang beredar dimasyarakat itu. Aiptu Agus Tugas Prayitno Handoko mengatakan, pada waktu itu Riyanto tidak berlari sambil membungkuk sambil membawa bom. Namu Riyanto berjalan menghampiri Aiptu Agus sambil membawa benda yang terbungkus keresek hitam. Saat itu ia sedang berada di depan rumah dokter Gunawan, sisi barat gereja Eben Haezer Kota Mojokerto.

“Saya tidak tahu Riyanto mengambil bungkusan itu dimana dan dengan siapa. Riyanto, Banser datang ke saya dari arah timur kebarat, waktu saya pengamanan di depan rumah dokter Gunawan,” cerita Agus yang saat itu masih berpangkat Serma dan bertugas di Polsek Prajurit Kulon, saat di temui di rumahnya yang berada di Pulorejo, Kelurahan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Jumat (25/12/2020).

BACA JUGA :  Dibalik Riyanto Banser Penyelamat Jemaat Gereja Eben Haezer Mojokerto

Oleh Agus tas plastik itu kemudian di buka, saat membuka bungkusan itu dirinya dan Riyanto duduk berhadapan sambil jongkok disebakan gorong-gorong.

Bungkusan lapis pertama sangat mudah dibuka, tapi masih ada tas plastik lainnya, namun bungkusan kedua itu susah dibuka dan akhirnya ia sobek. Betapa terkejutnya ia ketika melihat sebuah benda sebesar aki motor dengan kabel, paku, bubuk mesium, dan sebuah jam yang berdetak.

“Tas atau kresek yang saya bawa warna hitam itu awalnya mudah, ternyata di dalamnya ada kresek ada kresek lagi warna hitam. Tapi saya buka (kresek kedua) kok sulit, akhirnya disobek Riyanto,” ujarnya.

“Waktu itu tidak terlihat jelas karena lampu kota berwarna kuning tidak begitu terang to. Saya lihat ada kabel dan ada detak jam,” paparnya.

Mengetahui hal itu, Agus langsung sontak dan terbelalak bola matanya dan berteriak ‘lari pak semua, awas ada bom, tiarap’.

BACA JUGA :  Dibalik Riyanto Banser Penyelamat Jemaat Gereja Eben Haezer Mojokerto

“Saya lari lima langkah, saya tidak tega dan melihat kebelakang, mungkin Allah yang memberi tahu melihat Riyanto tidak lari dan benda itu dipegang, mungkin dianggap mercon dan dimasukkan ke bak kontrol (saluran air) itu, ya otomatis konslet, kan belum waktunya meledak,” bebernya.

Agus menjelaskan, di depan rumah dokter Gunawan itu ada gorong-gorong yang terdapat bak kontrol.

“Saya masih melihat dengan mata kepala saya sendiri Banser tersebut (Riyanto) posisi berdiri membungkuk,” tegas Agus.

Agus juga sangat menyayangkan tindakan Riyanto yang tidak melarikan diri dan malah memasukkan bom itu ke gorong-gorong.

“Benda itu (tas plastik berisi bom) dimasukkan ke gorong-gorong oleh dia (Riyanto) dan langsung meledak,” katanya.

Ledakan bom terjadi pada 24 Desember 2000 sekitar pukul 20.10 sampai 20.15 WIB bersamaan jemaat umat kristiani keluar dari dan disusul lagi ledakan bom kedua yang berada di bawa kolong becak.

“Bom kedua ada di bawah kolong becak yang berada tepat didepan gereja Eben Haezer,” katanya.

BACA JUGA :  Dibalik Riyanto Banser Penyelamat Jemaat Gereja Eben Haezer Mojokerto

Agus dengan tegas menyanggah kronologi bom Natal tahun 2000 yang menewaskan Riyanto dalam buku berjudul “Riyanto Melawan Teroris” itu tidak lah benar.

“Tidak benar semua itu, kalau memang bom itu meledak dipelukan Riyanto, dia pasti sudah hancur, tapi tetap utuh toh. Meledaknya itu bersamaan komando saya. Meledaknya bom posisi dia (Riyanto) membungkuk otomatis kepala, tangan, dan kakinnya hilang. Ini fakta hukumnya, bukan dilempar,” ungkapnya.

Ia juga mengungkap bahwa dirinya selama ini tidak pernah diwawancarai oleh pihak penulis buku tentang Riyanto, padahal menurutnya ia adalah saksi kunci satu-satunya dalam peristiwa bom misa natal tahun 2000 silam itu.

Ia lmerasa tidak setuju dengan judul buku tersebut, karena Riyanto tidak sedang melawan teroris melainkan menjadi korban ledakan bom.

“Tim penyusun malah mewawancarai salah satu anggota Banser yang tutur menjaga gereja malam itu, sedangkan Amir tidak tahu detik-detik pembukaan tas plastik itu. Saya sudah mendatangi Amir dan Saiful Amin selaku editor buku tersebut. Seharusnya sejarah harus diluruskan, hanya saya saksi kunci satu-satunya,” imbuhnya.









Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.




VIDEO TERKINI